Posts

Showing posts from August, 2019

Puisi#2 ~ Tanah Terlupa

sastrarita.co.id Tanah Terlupa Oleh: Rita Setiawati Ketika rerumputan terjejak tapak langkah Sang waktu masih bersedia menyambangi Dalam memori masih segar terbayang Kala dirimu terkurung dalam sarang Tak pernah terpikirkan Kini sepasang kaki telah jauh menapak Bersama jutaan cerita kisah diri Tak jua pernah kupikirkan Rambutmu semakin memutih Menandai diri telah lama mendaki Raguku melaju Tatkala kulihat jiwa semakin senja Tatkala kutahu raga semakin renta Tetapi diri masih jua berdiri Tak beranjak lari Masih setia menyambut nyamannya pagi Hingga dirinya tertelan sore hari Masih segar terbayang Tatkala tanah menjadi peraduan Tatkala gemintang menjadi penopang Dan tatkala rerumputan menjadi saksi jeritan Bintara surya menangis Tak sanggup menyeka peluh karenanya Dedaunan terisak Tak sanggup menyeka resah dalam pasrahnya Jangan! Kumohon jangan! Tak sanggup kurela manusia untuk melupa Kisah penuh peluh tergores darah Tak sanggup kisah kan terl...

Puisi#1 ~ Bintara Senja

sastrarita.co.id Bintara Senja Oleh: Rita Setiawati Tuhan, Mengapa aku terkagum padanya? Mengapa aku berharap padanya? Entahlah, setiap tanya yang tersirat. Tak pernah kutahu jawabnya. Bahkan, Tatkala langit mencurahkan kasihnya. Tak pernah kusangka hadirnya. Tak pernah kunyana datangnya. Tak bisa kuelak. Sungguh. Bahkan, Ketika bintara memancarkan geloranya. Tak bisa ku menghindar darinya. Tak bisa ku menepis pancarnya. Tak bisa kuelak. Sungguh. Bahkan, Kini, saat sang surya tergantung di kaki cakrawala. Belum bisa kulupa senyum indahnya. Belum sanggup kuhapus semburat jingganya. Dan yang terakhir, Belum sempat kuabadikan potret pesonanya. Ku merindu. Sungguh, Teruntuk kamu, Senja di ujung harap pengagum metafora.