Posts

Puisi #5 ~ Begitu pun Aku

Image
sastrarita.co.id Begitu pun Aku Oleh: Rita Setiawati Semestamu yang penuh kalut Dadamu yang bergenderang ribut Pikirmu yang berimpit carut marut Hingga tiap detikmu yang gaduh Mengomando air matamu meluruh Mengoyak rasamu yang telah rapuh Hingga tegak berdiri pun hendak runtuh Sayangnya, Akalmu tak bisa mencerna Logikamu pun tak tahu mengapa Tentang rangkaian alasan Pusaran hati yang menyesakkan Tatkala kau hampir menyerah Perlu kau ingat Sempatkah jemarimu menganyam manfaat? Sudahkah penamu goreskan maslahat? Hei, jangan ragu Tumpahkan saja air matamu Sadari lalaimu pada-Nya masih melaju Dan lihatlah Untaian keliru memilin langkah kakimu Begitu pun aku

Puisi #4 ~ Perihal Hujan

Image
sastrarita.co.id Perihal Hujan Oleh: Rita Setiawati Derai rangkaian rintik membumi Berderu meluruh merenda simfoni Merinai pada tengadah wajah Tenangkan nurani yang memerah Yang gerah kala ia memintal kisah Berdebum hujan sapu pekat kalbu Pelan basuh benak menggerutu Persembahkan petrikor bersama tampias Tuk ingatkan insan dengan celotehnya Agar bergegas merenung ulang Sebelum aliran gusar menderas Perihal berlega hati, telah sempatkah?

Puisi #3 ~ Jejak Abu

Image
sastrarita.co.id Jejak Abu Oleh: Rita Setiawati Bejibun daun gugur, buana bungkam Deras gerimis membumi, bumantara diam Ratapi langkah tertinggal Renungi tapak kaki terhampar Rapi terpoles lalui lorong cerita Dan rangkai pijak Layukan puspa tak tersiram Tiada guna bagi semesta terlewat Terbitkan jejak tanpa delusi Yang hampa temaram Laksana jejak berdebu

Puisi#2 ~ Tanah Terlupa

sastrarita.co.id Tanah Terlupa Oleh: Rita Setiawati Ketika rerumputan terjejak tapak langkah Sang waktu masih bersedia menyambangi Dalam memori masih segar terbayang Kala dirimu terkurung dalam sarang Tak pernah terpikirkan Kini sepasang kaki telah jauh menapak Bersama jutaan cerita kisah diri Tak jua pernah kupikirkan Rambutmu semakin memutih Menandai diri telah lama mendaki Raguku melaju Tatkala kulihat jiwa semakin senja Tatkala kutahu raga semakin renta Tetapi diri masih jua berdiri Tak beranjak lari Masih setia menyambut nyamannya pagi Hingga dirinya tertelan sore hari Masih segar terbayang Tatkala tanah menjadi peraduan Tatkala gemintang menjadi penopang Dan tatkala rerumputan menjadi saksi jeritan Bintara surya menangis Tak sanggup menyeka peluh karenanya Dedaunan terisak Tak sanggup menyeka resah dalam pasrahnya Jangan! Kumohon jangan! Tak sanggup kurela manusia untuk melupa Kisah penuh peluh tergores darah Tak sanggup kisah kan terl...

Puisi#1 ~ Bintara Senja

sastrarita.co.id Bintara Senja Oleh: Rita Setiawati Tuhan, Mengapa aku terkagum padanya? Mengapa aku berharap padanya? Entahlah, setiap tanya yang tersirat. Tak pernah kutahu jawabnya. Bahkan, Tatkala langit mencurahkan kasihnya. Tak pernah kusangka hadirnya. Tak pernah kunyana datangnya. Tak bisa kuelak. Sungguh. Bahkan, Ketika bintara memancarkan geloranya. Tak bisa ku menghindar darinya. Tak bisa ku menepis pancarnya. Tak bisa kuelak. Sungguh. Bahkan, Kini, saat sang surya tergantung di kaki cakrawala. Belum bisa kulupa senyum indahnya. Belum sanggup kuhapus semburat jingganya. Dan yang terakhir, Belum sempat kuabadikan potret pesonanya. Ku merindu. Sungguh, Teruntuk kamu, Senja di ujung harap pengagum metafora.